HUBUNGAN ANTROPOLOGI, KEBUDAYAAN, DAN AGAMA ISLAM

 Nama               : Dimas Misbahul Munir

NIM                : 206111023

Kelas               : Sastra Inggris 4A

RESUME HUBUNGAN ANTROPOLOGI,

KEBUDAYAAN, DAN AGAMA ISLAM



A.    Pengertian

Antropologi berasal dari kata Yunani “anthropos” yang berarti manusia atau orang dan “logos” yang berarti ilmu. Antropologi berarti ilmu yang mempelajari tentang manusia, sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Antropologi yakni ilmu yang mempelajari manusia dari segi keragaman fisik dan keragaman kebudayaan (cara-cara berperilaku, tradisi-tradisi dan nilai[1]nilai yang dihasilkan manusia), sehingga antara yang dihasil oleh manusia yang satu dengan manusia lainnya akan berbeda. Dan beberapa ahli memiliki pengertian yaitu:

·         David Hunter

mengemukakan bahwa antropologi ialah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang manusia.

·         E.A. Hoebel

yang menyatakan bahwa antropologi ialah studi tentang manusia dan kerjanya.

·         Menurut Ariyono Suyono

bahwa antropologi ialah suatu ilmu yang berusaha mencapai pengertian tentang makhluk manusia dengan mempelajari aneka warna bentuk fisik, kepribadian, masyarakat, serta kebudayaan.

B.     Perkembangan Antropologi

Koentjaraninggrat menyusun perkembangan ilmu antropologi menjadi empat fase, sebagai berikut:

·         Fase Pertama

Manusia dan kebudayaannya, sebagai bahan kajian Antropologi. Sekitar abad ke-15- 16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. , pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar.

·         Fase Kedua (tahun 1800-an) 

Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.

·         Fase Ketiga (awal abad ke-20)

Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakanpemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan 4 etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.

·         Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)

Pada fase ini, Antropologi berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa. Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskina n, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung.

C.    Konsep Agama dan Antropologi alam

Religion as a Cultural System, Geertz (1977) mengonsepsikan agama sebagaSistem simbol-simbol yang berlaku untuk menetapkan suasana hati dan motivasi[1]motivasi yang kuat, yang meresap dan tahan lama dalam diri manusia. Ini dilakukan dengan cara merumuskan konsep-konsep mengenai suatu tatanan umum eksistensi dan membungkus konsep-konsep ini dengan semacam pancaran faktualitas sehingga suasana hati dan motivasi-motivasi itu tampak khas realistis.

Dua konsep lain yang dikaitkan dengan konsep agama adalah etos dan world view. Etos juga merupakan sikap mendasar terhadap diri mereka sendiri dan dunia yang direfleksikan dalam kehidupan. Sedangkan world view adalah gambaran tentang kenyataan apa adanya, konsep mereka tentang alam, diri, dan masyarakat. World view mengandung gagasan-gagasan yang paling komprehensif mengenai tatanan. Agama, dalam hal ini adalah sebagian usaha untuk membincangkan kumpulan makna umum bagi individu untuk menafsirkan pengalaman dan mengatur tingkah lakunya.

Antropologi agama/ religi mempelajari pranata dan fenomena religius terutama yang sudah terpola, baik yang berasal dari keyakinan keagamaan tradisional atau tradisi lokal maupun yang berasal dari agama-agama tradisi besar. Di antropologi agama/ religi, agama dibedakan ke dalam dua kelompok, agama tradisi besar (great tradition) dan agama tradisi lokal/ tradisi kecil (little tradition). Kedua konsep ini diambil dari konsep yang sama dari antropolog Robert Redfield, yang membedakan masyarakat petani sebagai masyarakat folk atau masyarakat terbelah/ half society dengan masyarakat industri sebagai masyarakat dengan tradisi besar (great tradition) dan masyarakat tribal sebagai bentuk masyarakat dengan tradisi kecil (little tradition).

Pendekatan antropologi digunakan dalam studi agama dengan memahami praktek keberagamaan manusia sebagaimana yang pada masyarakat. Dengan antropologi, agama nampak lebih dekat pada persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat. Antropologi berupaya menjelaskan dan memberikan jawaban atas persoalan tersebut.

D.    Pembauran Agama dan Budaya

Agama merupakan kata yang berasa dari bahasa Sansekerta yang berarti tidak kacau. Secara umum, definisi dan fungsi agama berarti sebagai sesuatu yang memelihara kesatuan antar umat manusia. Agama ini berperan sebagai penjaga supaya tidak terjadinya kekacauan dengan cara menjaga hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Definisi budaya menurut Koentjaraningrat ialah sebuah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan, dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar. bahwa budaya yang lahir dari adanya agama muncul karena adanya interaksi antara manusia dengan kitab suci yang kemudian diaplikasikan di kehidupan si pemeluknya masing-masing. Oleh karena itu, ini cenderung bersifat objektif, lantaran budaya tiap-tiap agama itu pasti berbeda-beda. Lalu apa contoh dari pembauran agama dan budaya ini? Terlebih di Indonesia? Di Indonesia terdapat salah satu kelompok masyarakat Islam Aboge di Banyumas, Jawa Tengah. Aliran Islam Aboge di Banyumas ini berlokasi tepatnya di daerah Pekuncen dan telah ada jauh sejak sebelum era kemerdekaan. Kata Aboge sendiri merupakan singkatan dari Alif Rebo Wage. Perbedaan Islam Aboge dengan Islam di Indonesia pada umumnya, yakni terletak pada penggunan kalender tradisional mereka dalam penentuan bulan Ramadan. Di sini dapat dilihat jelas perpaduan antara unsur budaya (penggunaan kalender tradisional) dan unsur agama (penetapan bulan Ramadan)

Komentar

Postingan Populer