BACAAN DAN MELAGUKAN AL-QUR’AN
BACAAN
DAN MELAGUKAN AL-QUR’AN
DIMAS MISBAHUL MUNIR 206111023
Pahala
membaca Al-Quran
Al-Quran adalah kitab kitab suci
bagi umat muslim. Membaca Al-Quran itu termasuk kedalam ibadah yang paling
utama di antara ibadah-ibadah lainnya. Ada berbagai keutamaan dalam membaca
Al-Quran, salah satunya adalah mendatangkan pahala bagi mereka yang membaca dan
mengamalkannya.
Terdapat 2 riwayat yang menjelaskan
tentang pahala minimal yang diperoleh seseorang ketika membaca setiap huruf
Al-Quran salah
satunya yaitu
Hadis riwayat Imam Tarmidzi dari Abdullah bin Mas’ud,
mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda :
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ
حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ
حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
“siapa
yang membaca satu huruf dari Al-Quran, maka baginya satu kebaikan dengan bacaan
tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya dan aku
tidak mengatakan alif lam mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu
huruf dan Miim satu huruf.”
Pahala membaca Al-Quran mulai
dari pahala maksimal dan minimal adalah sebagai berikut:
1. membaca satu
huruf Al-Quran dalam shalat dengan keadaan berdiri akan mendapatkan seratus
kebaikan dan pahala.
2. membaca satu
huruf Al-Quran dalam shalat dengan keadaan duduk akan mendapatkan lima puluh
kebaikan dan pahala.
3. membaca satu
huruf Al-Quran di luar shalat dalam keadaan suci dari hadas akan mendapatkan
dua puluh lima kebaikan dan pahala.
4. membaca satu huruf Al-Quran di
luar shalat dalam keadaan tidak suci dari hadas akan mendapatkan sepuluh
kebaikan dan pahala.
Adab Membaca
Al-Quran
Dalam
pendidikan Al-Quran sepatutnya diajarkan adab-adab atau tata krama dalam
membaca Al-Quran. Pengajaran mengenai adab-adab ini bertujuan menghrmati dan mengagungkan Al-Quran sebagai kitab suci.
Adab-adab
membaca Al-Quran antara lain:
1.Disunatkan membaca Al-Quran sesudah berwudhu
2.Mengambil Al-Quran hendaknya dengan tangan kanan, sebaiknya
memegangnya dengan menggunaan kedua tangan
3. Disunatkan
membaca Al-Quran di tempat yang bersih, seperti rumah, di surau, di mushalla
dan di tempat-tempat lain yang dianggap bersih. Tapi yang paling utama ialah
masjid
4. Disunatkan membaca
Al-Quran menghadap ke qiblat, membaca dengan khusyu’ , tenang dan berpakaian
yang pantas
5.Ketika membaca Al-Quran
mulut hendaknya bersih, tidak berisi makanan. sebaiknya sebelum membaca
Al-Quran mulut dan gigi dibersihkan terebih dahulu.
6.Sebelum membaca Al-Quran
disunatkan membaca ta’awwudz, sesudah itu barulah membaca basmallah. Tetapi
pada surat At-Taubah tidak diperkenankan membaca basmallah
7.Membaca Al-Quran dengan
tartil, yaitu dengan bacaan yang pelan-pelan dan tenang
Itulah diantara adab-adab
yang terpenting yang harus dijaga dan diperhatikan, sehingga dengan demikian
kesucian Al-Quran dapat terpelihara menurut arti yang sebenarnya.
Sejarah tentang adanya 7
macam bacaan al-Qur’a n (Qira’at Sab’ah)
Istilah
Qiraat berasal dari bahasa Arab yaitu قراءات yang merupakan jamak dari قراءة .
Secara etimologis, qiraat merupakan akar kata dari قراء yang bermakna membaca.2 Lafaz قراءات
secara luqhawi berkonotasi “beberapa pembacaan”. Secara terminologis, berbagai
ungkapan atau redaksi dikemukakan oleh para ulama dalam hubungannya dengan
qiraat.
Ada dua ulama yang berpendapat tentang apa itu
Qira’at yaitu :
1. Menurut az-Zarqani qiraat
adalah mazhab yang dianut oleh seorang imam qiraat yang berbeda dengan lain-
nya dalam pengucapan al-Qur’an serta kesepakatan riwayat-riwayat dan
jalurjalurnya, baik perbedaan itu dalam pengucapan huruf-huruf ataupun
pengucapan bentuk-bentuk.
2. Sedangkan menurut al-Zarkasyi, qiraat adalah perbedaan lafazlafaz al-Qur’an
baik menyangkut huruf-hurufnya maupun cara-cara pengucapan huruf-huruf
tersebut, seperti takhfit, tasydid dan lain-lain.
Dengan berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka
dapat kita simpulkan bahwa :
1. Qira’at berkaitan dengan cara penglafalan
ayat-ayat Al-Qur’an yang dilakukan salah seorang imam dan berbeda cara yang
dilakukan imam-imam lainnya.
2. Cara penglafalan ayat-ayat
Al-Qur’an itu berdasarkan atas riwayat yang bersambung ke.
pada nabi, jadi bersifat taufiqi bukan ijtihadi
3. Ruang lingkup perbedaan qira’at itu menyangkut persolan
lughat, hadzaf, I’rab, itsbat, fashl, dan washil.
Sejarah Awal Munculnya
Qira’ah Sab’ah
Munculnya Qira’ah Sab’ah, secara lahir,
al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Ia diturunkan di tengah-tengah
kehidupan bangsa Arab yang merupakan komunitas dari berbagai suku yang secara
sporadis tersebar di sepanjang jazirah Arab. Setiap suku me- miliki format
dialek atau lahjah yang berbeda. Perbedaan dialek tersebut tentunya sesuai
dengan letak geografis dan sosio-kultural dari masing-masing suku. Namun
demikian, setiap suku telah menjadikan bahasa Quraisy sebagai bahasa bersama
dalam berbagai hal, baik dalam berkomunikasi, berniaga atau yang lainnya. lahirnya
bermacam-macam qiraat merupakan akibat dari beragamnya dialek. Adanya
keberagaman dialek merupakan sesuatu yang bersifat alami.
Beberapa faktor yang melatar
belakangi timbulnya perbedaan qiraat Al-Qur’an
1. Karena
perbedaan qiraat Nabi Muhammad dalam membaca dan mengajarkan Al-Qur’an
dengan beberapa versi.
2. Karena
adanya taqrir (pengakuan) Nabi Muhammad terhadap berbagai macam qiraat.
3. Karena
berbedanya qiraat yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad melalui
perantara malaikat jibril.
4. Karena adanya riwayat dari sahabat menyangkut berbagai versi qiraat
yang ada.
5. Karena adanya perbedaan lahjah atau dialek kebahasan masyarakat Arab
pada masa turunnya Al-Qur’an.
Jadi dari kelima penyebab berbedaan qiraat diatas, pada prinsipnya sama
yaitu bahwa sumber penyebab adanya perbedaan qiraat Al-Qur’an adalah
bermuara kepada Nabi SAW.
Nama-nama tokoh atau tujuh
imam Qira’at Sab’ah dan dikenal dua
orang perawinya yaitu sebagai berikut :
1. Imam
Ibnu Amir di Damaskus (Syam)
Nama lengkapnya: Abdullah bin Amir
al-Yahshabi (8-118 H). Beliau membaca Al-Qur’an dari Mughirah bin Abi Syihab
(dari Utsman bin Affan) dan Abu al-Darda’.
2. Imam
Katsir di Makkah
Nama lengkapnya: Abu Muhammad
Abdullah bin Katsir (45-120 H). Beliau membaca Al-Qur’an dari Abdullah ibn
al-Sa’ib (dari Ubay bin Ka’ab dan Umar bin Khattab), Mujahid ibn Jabar dan
Dirbas (dari Ibnu Abbas dari Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit).
3. Imam Ashim di Kufah
Nama lengkapnya: Abu Bakar
Ashim bin Abi Najud al-Asadi (w. 129 H). Beliau membaca Al-Qur’an dari Abu Abd
al-Rahman al-Simi (dari Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Ibnu Mas’ud, Ubay
bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit).
4. Imam Abu Amr di Bashrah
Nama lengkapnya: Abu Amir
Zabban bin al-Ala’ bin Ammar (68-154 H). Beliau membaca Al-Qur’an dari Hasan
al-Bashri dari Abu al-Aliyah dari Umar bin Khattab dan Ubay bin Ka’ab.
5. Imam Hamzah di Kufah
Nama lengkap: Hamzah ibn
Hubayb ibn al-Ziyyat al-Kufti (80-156 H). Beliau membaca Al-Qur’an dari Ali
Sulaiman al- A’masy, Said Ja’far As-Shadiq, Hamran ibn A’yan, Manhal ibn Amr
dan lain-lain.
6. Imam Nafi’ di Madinah.
Nama lengkap: Nafi ibn Abd
al-Rahman ibn Abi Nu’aym al-Laysi (w. 169 H). Beliau membaca dari Ali ibn
Ja’far, Abd al-Rahman ibn Hurmuz Muhammad ibn Muslim al-Zuhri dan lain-lain.
7. Imam Al-Kisa’i di Kufah
Nama lengkapnya: Abu Hasan Ali
bin Hamzah Al-Kisa’i (w. 187 H). Beliau membaca dari Hamzah bin Hubaib,
Syu’bah, Ismail ibn Ja’far dan lain-lainnya.
Tujuh Imam tersebut itulah yang masyhur,
kemudian ahli qiraat tersebut terkenal dengan “Qiraat Sab’ah”,
karena masing-masing Imam memang teliti dalam meriwayatkan qiraat yang
berasal dari sahabat Nabi SAW.
Hikmah Atas Adanya Qira’ah Sab’ah
Hikmah
Secara Umum
1.
Meringankan umat Islam dan mudahkan mereka untuk membaca al-Qur’an.
2.
Mempersatukan umat Islam dikalangan bangsa Arab yang relatif baru.
3.
Menunjukkan kesempurnaan kemukjizatan al-Qur’an.
Hikmah Secara Khusus
1. Mengukuhkan atau
menguatkan ketentuan hukum yang telah disepakati dan di-Ijma'kan oleh para ulama.
2. Men-tarjih-kan hukum yang di-ikhtilaf-kan oleh para ulama.
3. Menjelaskan suatu hukum dalam suatu ayat, yang berbeda dengan makna
menurut zhahir-nya.
4. Merupakan tafsir atau
penjelasan terhadap suatu lafaz dalam al-Quran, yang mungkin sulit unluk
dipahami maknanya..
OPINI PRIBADI
Menurut saya dengan adanya qiraat sabaah lebih
mempermudah umat islam dalam membaca alquran. Dan juga menurut saya melagukan
alquran tidaklah dilarang karena rasululah pun menyarankan agar sahabat yang
memiliki suara bagus untuk memperindah bacaan alquran , namun ada beberapa
ulama yang mengharamkan untuk melagukan alquran seperti KH Sya’raniyyah yang
melarang anak murudnya untuk melagukan /meelombakan al quran hingga 7
keturunannya karena suatu dalil yang dianggap beliau untuk tidak melagukan
alquran.



Komentar
Posting Komentar